Di balik setiap helai kain Tenun Solok tersimpan cerita panjang tentang tradisi, kesabaran, dan kecermatan tangan pengrajin. Kain khas Minangkabau ini tidak hanya menghadirkan motif indah yang sarat filosofi, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat Solok. Namun, keindahan warisan leluhur itu kini menghadapi tantangan besar. Persaingan dengan produk tekstil modern yang lebih murah dan mudah dijangkau membuat Tenun Solok terancam tertinggal jika tidak segera beradaptasi.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Andalas (Unand) melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengambil langkah nyata. Dosen dan mahasiswa turun langsung ke tengah para pengrajin untuk memberikan pelatihan manajemen keuangan dan digital marketing. Upaya ini bukan sekadar berbagi ilmu, melainkan membuka jalan baru agar Tenun Solok mampu bersaing dan tetap bertahan di era modern.
Bagi sebagian besar pengrajin, manajemen usaha masih menjadi pekerjaan rumah. Pencatatan keuangan dilakukan secara sederhana, bahkan sering kali hanya mengandalkan ingatan. Akibatnya, mereka tidak mengetahui dengan jelas apakah usaha berjalan untung atau rugi, apalagi merencanakan pengembangan jangka panjang. Kondisi ini membuat akses terhadap permodalan juga sulit. Tanpa laporan keuangan yang rapi, lembaga keuangan enggan memberikan pinjaman karena tidak memiliki dasar untuk menilai kelayakan usaha.
Selain itu, pemasaran Tenun Solok masih sangat bergantung pada cara-cara konvensional. Penjualan banyak dilakukan melalui pasar lokal atau rekomendasi dari mulut ke mulut. Padahal, di era digital saat ini, konsumen lebih banyak mencari produk melalui internet. Tanpa masuk ke ranah digital, Tenun Solok berisiko kehilangan peluang untuk menembus pasar yang lebih luas.
Kesadaran akan persoalan ini mendorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat. Melalui pendanaan dari LPPM Universitas Andalas, kegiatan bertajuk Pengabdian kepada Masyarakat Membantu Usaha Berkembang Tahun 2025 digelar khusus untuk para pengrajin Tenun Solok. Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ratni Prima Lita, SE., M.M., dengan dukungan Dr. Rita Rahayu selaku Ketua Departemen Akuntansi, dan Laura Amelia Triani, SE., M.M., Sekretaris Departemen Manajemen. Tidak kurang dari delapan dosen lain juga turut berkontribusi, bersama mahasiswa yang berperan aktif mendampingi pengrajin selama proses pelatihan.
Pelatihan berlangsung pada 16 Agustus 2025, dengan peserta sebanyak 11 orang dari kelompok usaha Banun Songket dan Berkah Songket. Dua tema besar diangkat: manajemen keuangan dan digital marketing.
Pada sesi manajemen keuangan, para pengrajin diperkenalkan pada pencatatan arus kas sederhana, pembuatan laporan laba rugi, hingga perhitungan biaya produksi. Meski terkesan teknis, materi ini penting agar pengrajin bisa memetakan kondisi usaha secara lebih jelas. Dengan demikian, keputusan bisnis yang diambil lebih terukur dan membuka peluang untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan.
Sesi digital marketing menjadi titik balik lain bagi para pengrajin. Mereka diperkenalkan pada strategi pemasaran modern menggunakan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Tak hanya itu, peserta juga belajar bagaimana memanfaatkan marketplace, membuat foto produk yang menarik, hingga menulis deskripsi yang memikat calon pembeli.
Materi branding turut disampaikan, karena Tenun Solok tidak boleh dipandang sekadar kain, melainkan produk eksklusif yang bernilai budaya tinggi. Dengan strategi branding yang tepat, Tenun Solok berpotensi menjadi produk premium yang diminati pasar nasional bahkan internasional.
Kegiatan ini tidak berhenti di ruang kelas. Unand juga menyiapkan program pendampingan, di mana dosen dan mahasiswa mendampingi para pengrajin untuk mempraktikkan ilmu yang telah mereka peroleh. Pendampingan ini memungkinkan para pengrajin berkonsultasi langsung mengenai masalah yang dihadapi, baik dalam pencatatan keuangan maupun strategi pemasaran. Pendekatan ini penting, sebab pelatihan singkat saja sering tidak cukup untuk mengubah kebiasaan. Dengan pendampingan, pengrajin diharapkan bisa lebih konsisten menerapkan keterampilan baru dalam keseharian usaha mereka.
link
